|
Bukti-bukti
Kerajaan Ebla
Penemuan arkeologis yang berhubungan dengan
penelitian alkitabiah adalah batu-batu prasasti Ebla yang
ditemukan akhir-akhir ini. Penemuan itu terjadi di Suriah utara
melalui karya dua orang dosen Universitas Roma, Dr. Paolo Matthiae,
seorang arkeolog; dan Dr. Giovanni Petinato, seorang pakar ilmu
pepatah. Penggalian suatu tempat, bernama Tell Mardikh, dimulai
tahun 1964; pada tahun 1968 mereka menemukan patung Raja Ibbit-Lim.
Prasasti padanya menyebut Ishtar, dewi yang memancarkan cahaya
sangat terang di Ebla. Ebla, pada puncak kekuasaannya pada
tahun 2300 S.M., berpenduduk sejumlah 260,000 orang. Kerajaan itu
dihancurkan pada tahun 2250 S.M. oleh Naram-Sin, cucu Sargan Agung.
Sejak 1974 telah digali sebanyak 17,000 batu
prasasti dari zaman Kerajaan Ebla itu. Diperlukan waktu sebelum
dapat dilakukan penelitian penting untuk menetapkan hubungan
antara Ebla dengan dunia yang dikenal dalam Alkitab. Tetapi,
pelbagai sumbangsih yang berharga telah diberikannya kepada usaha
penelitian atas Alkitab.
Pada masa yang lalu para penganjur Hipotesa
Dokumenter telah mengajarkan bahwa kurun waktu yang dituturkan
dalam kisah Musa (1400 S.M., seribu tahun sesudah Kerajaan Ebla)
adalah masa sebelum ada pengetahuan tentang tulis-menulis (bacalah
More Evidence That Demands a
Verdict oleh Josh McDowell, h. 63). Namun prasasti Ebla
menunjukkan bahwa seribu tahun sebelum Musa, hukum,
kebiasaan-kebiasaan dan pelbagai peristiwa telah diabadikan dalam
bentuk tulisan di kawasan dunia yang sama dengan tempat tinggal
Musa dan nenek-moyang Israel.
Higher
Critics
(kritikus-kritikus yang memusatkan usaha mereka untuk menetapkan
fakta-fakta tentang penulis, tahun penulisan, juga penyediaan
suatu dasar eksegese) tidak hanya mengajarkan bahwa itu adalah
masa sebelum orang mengenal kegiatan tulis-menulis saja melainkan
juga bahwa Tatatertib Keimaman dan penetapan undang-undang
sebagaimana yang tercatat dalam Pentateukh bersifat terlalu maju
apabila catatan itu ditulis oleh Musa. Diakui bahwa pada saat itu
bangsa Israel masih terlalu terbelakang untuk dapat menulis
semuanya itu dan bahwa rincian undang-undang seperti itu baru
tercatat pada paruh pertama periode kekuasaan Persia (538-331 S.M.).
Namun, batu-batu prasasti yang berisi tatatertib
hukum di Ebla itu telah menunjukkan adanya tindakan berdasarkan
undang-undang yang demikian rapih serta penetapan hukum
berdasarkan keputusan mahkamah. Banyak yang sangat serupa dengan
tatatertib hukum dalam Ulangan (misalnya: Ulangan 22:22-30) yang
telah dinyatakan oleh para kritikus sebagai tulisan yang
dihasilkan pada tahun yang sangat
mendekati tahun Masehi itu.
Contoh tambahan tentang sumbangsih penemuan Ebla
mempunyai hubungan dengan Kejadian 14, yang selama bertahun-tahun
telah dipandang sebagai tulisan yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan dari sudut pandang sejarah. Kemenangan
Abraham atas Kedorlaomer dan raja-raja Mesopotamia telah
dilukiskan sebagai suatu khayalan belaka dan kelima Kota di
Dataran itu (Sodom, Gomorah, Admah, Zeboiim dan Zoar) sebagai
legenda (More Evidence That
Demands a Verdict, h. 79-83).
Tetapi, arsip Ebla menunjuk kepada kelima kota
di Dataran itu dan pada satu batu prasasti Kota-kota tersebut
ditulis dengan urutan yang sama dengan urutan dalam Kejadian 14.
Lingkungan prasasti itu mencerminkan budaya zaman nenek-moyang
bangsa Israel dan melukiskan bahwa, sebelum bencana yang
dituturkan dalam Kejadian 14 itu terjadi, wilayah itu adalah tanah
yang subur yang mengalami kemakmuran dan keberhasilan, sebagaimana
yang tercatat dalam Kejadian.
Contoh-contoh
Penegasan Arkeologis Perjanjian Lama
-
Kitab
Kejadian menuturkan bahwa nenek-moyang bangsa Israel berasal
dari Mesopotamia. Penemuan arkeologis memiliki persesuaian
dengan fakta ini. Albright mengatakan, tanpa disangsikan
sedikitpun bahwa tradisi Ibrani memang benar dalam menelusuri
Cikal-bakal mereka secara langsung ke Lembah Balikh di
Mesopotamia barat-laut. Bukti tentang hal itu didasarkan
pada persamaan antara penemuan-penemuan alkitabiah dan
arkeologis dalam menelusuri perpindahan bangsa ini dari tanah
Mesopotamia.
-
Menurut
Kitab Suci, Seluruh dunia memiliki satu bahasa dan satu
percakapan (Kejadian 11:1) sebelum peristiwa Menara Babel.
Sesudah peristiwa pembangunan menara dan penghancurannya itu,
Allah mengacaukan bahasa di seluruh muka bumi (Kejadian 11:9).
Banyak ahli bahasa zaman moderen yang memberikan kesaksian
tentang kemungkinan asal mula seperti itu dalam hubungan
dengan bahasa-bahasa dunia. Alfredo Trombetti mengatakan ia
dapat menelusuri dan membuktikan bahwa semua bahasa mempunyai bahasa induk yang sama. Max Mueller juga
memberikan kesaksian tentang adanya bahasa induk yang sama.
Dan Otto Jespersen memberikan kesaksian demikian jauh ketika
ia mengatakan bahwa bahasa tersebut diberikan secara langsung
kepada orang-orang pertama oleh Allah.
-
Dalam
silsilah Esau, disebutkan nama orang Hori (Kejadian 36:20).
Pada suatu saat dipercayai bahwa orang-orang ini adalah
penghuni gua karena adanya persamaan antara nama Hori
dengan kata gua
dalam bahasa Ibrani oleh karena itulah maka timbul gagasan
bahwa bangsa Hori ini tinggal di gua-gua. Tetapi, sekarang,
hasil-hasil penemuan membuktikan bahwa bangsa ini adalah
kelompok yang terdiri dari prajurit yang terkenal di daerah
Timur Dekat yang hidup sezaman dengan Cikal-bakal Israel itu.
-
Pada
saat diadakan pelbagai penggalian di Yerikho (1930-1936)
Garstang menemukan sesuatu yang menakjubkan sehingga
pernyataan tentang apa yang ditemukannya itu telah
dipersiapkan dan ditandatanganinya sendiri bersama dengan dua
anggota tim lainnya. Dalam hubungan dengan temuan-temuan ini
Garstang mengatakan: Maka, tentang fakta utama itu, tidak
ada keragu-raguan: tembok-tembok itu roboh total ke arah luar
sehingga penyerang-penyerangnya dapat memanjat dan melewati
reruntuhan itu lalu memasuki kota. Mengapa dianggap
demikian tidak wajar? Karena tembok kota tidak dirancang untuk
roboh ke luar, tembok kota roboh ke dalam. Namun dalam Yosua
6:20 kita baca: . . . Maka runtuhlah (fell
down flat, NASB) tembok itu, lalu mereka memanjat masuk ke
dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan merebut kota
itu. Tembok itu dirobohkan ke luar.
-
Kita
temukan bahwa silsilah Abraham benar-benar bersifat historis.
Tetapi, tampaknya ada pertanyaan apakah nama-nama ini mewakili
pribadi atau nama kota-kota kuno. Satu hal yang pasti tentang
Abraham adalah bahwa namanya itu menunjukkan seorang pribadi
dan ia benar-benar ada. Hal itu sesuai dengan apa yang kita
dengar dari Burrows: Setiap hal menunjukkan bahwa di sini
kita memiliki seorang pribadi yang ada dalam sejarah. Seperti
yang kita perhatikan di atas, ia tidak disebutkan dalam sumber
arkeologis manapun yang kita kenal, namun namanya muncul di
Babilonia sebagai nama diri seseorang yang hidup pada zaman
yang memang sesuai dengan masa hidup Abraham.
Telah dilakukan pelbagai usaha lebih awal untuk
memindahkan tahun kehidupan Abraham pada sekitar abad ke-15
atau ke-14 Sebelum Masehi., waktu yang demikian jauh terlambat
baginya. Tetapi, Albright menyatakan bahwa karena adanya data
yang disebutkan di atas serta tersedianya bukti lain, kita
memiliki banyak sekali bukti tentang nama diri dan nama
tempat, hampir semuanya menentang cara meneropong data
tradisional secara tidak
beralasan itu.
-
Walaupun
bukti arkeologis khusus yang berhubungan dengan kisah
Cikal-bakal Israel itu mungkin tidak pernah ditemukan,
kebiasaan-kebiasaan masyarakat
yang disebutkan dalam kisah-kisah tersebut sesuai
dengan kebiasaan-kebiasaan pada waktu dan tempat para
Cikal-bakal itu.
Banyak di antara bukti ini berasal dari pelbagai
penggalian di Nuzu dan Mari. Puisi dan bahasa Ibrani kuno
menjadi jelas berkat pekerjaan yang dilakukan di Ugarit.
Undang-undang yang ditetapkan Musa terlihat dalam tatatertib
Het, Asyur, Sumer dan Eshunna. Melalui semuanya ini kita dapat
memperhatikan kehidupan orang-orang Ibrani dibandingkan dengan
dunia sekitarnya, dan seperti yang dikatakan Albright, Ini
adalah sumbangsih yang telah mengangkat nilai hal-hal yang
semula dipandang tidak penting. Temuan-temuan yang
terkumpul sejauh ini telah menuntun para sarjana untuk
menegaskan sifat historis kisah-kisah yang berhubungan dengan
Cikal-bakal Israel itu, tanpa dipengaruhi pandangan agamawi
mereka.
-
Julius
Wellhausen,
kritikus Alkitab terkenal dari abad ke-19, merasa bahwa
catatan tentang bejana pembasuhan dari tembaga itu
mencerminkan bahwa bejana pembasuhan itu
tidak termasuk bagian asli dalam Tatatertib Keimaman.
Dengan mengatakan demikian ia menempatkan dokumen tentang
kemah pertemuan (tabernakel) itu pada masa jauh sesudah Musa.
Tetapi, tidak ada alasan yang sah untuk menggunakan penetapan
tahun
(500 S.M.) oleh Wellhausen itu. Adanya bukti arkeologis
yang khusus tentang barang dari tembaga seperti itu tercermin
pada pada apa yang dikenal sebagai sejarah Zaman Kerajaan
Mesir (1500-1400 S.M.). Jadi, kita memahami bahwa periode
waktu ini sezaman dengan Musa dan Keluaran (1500-1400 S.M.).
-
Henry
M. Morris
menyatakan pengamatannya: Tentu saja, masih ada pelbagai
masalah dalam hal keselarasan seutuhnya antara materi
arkeologis dengan Alkitab, tetapi tidak ada yang demikian
serius sehingga tidak memberikan janji yang sungguh-sungguh
akan
datangnya pemecahan melalui penyelidikan lebih lanjut.
Dalam hubungan dengan bukti penunjang sejarah Alkitab yang
berjumlah demikian banyak, khususnya tentang periode waktu
tersebut, maka sungguh amat penting untuk diperhatikan bahwa
tidak ada satupun temuan arkeologis yang tidak disangsikan
telah membuktikan bahwa Alkitab pada suatu saat pernah
mengalami kesalahan.
Contoh-contoh
Perjanjian Baru
-
Kejujuran
Lukas sebagai sejarawan tidak diragukan. Unger memberitahukan
kepada kita bahwa arkelologi telah membuktikan kebenaran
kisah-kisah yang dituturkan dalam Injil, terutama Injil Lukas.
Dalam kata-kata Unger, Kisah Para Rasul saat ini secara
umum disetujui di kalangan sarjana sebagai karya Lukas,
berasal dari abad pertama dan melibatkan pekerjaan seorang
ahli sejarah yang cermat yang terutama sangat tepat dalam
menggunakan sumber-sumber informasi. Sir William Ramsay
dipandang sebagai salah seorang arkeolog terbesar yang pernah
hidup. Ia pernah menjadi murid di Jerman di suatu sekolah yang
khusus mempelajari sejarah pada pertengahan abad ke-19.
Akibatnya, ia percaya bahwa Kitab Kisah Para Rasul adalah
karya yang dihasilkan pada pertengahan abad kedua tarikh
Masehi. Ia benar-benar yakin akan apa yang dipercayainya itu.
Ketika melakukan penelitian dalam rangka mengadakan studi
topografis wilayah Asia Kecil ia terdorong untuk mempelajari
dengan teliti karya tulis Lukas. Akibatnya, ia terpaksa
mengambil sikap yang bertentangan seratus delapan puluh
derajat dengan keyakinan yang dimilikinya selama itu karena
temuan-temuan yang demikian melimpah yang digalinya melalui
penelitiannya itu. Ia berbicara tentang hal ini ketika ia
berkata: Saya dapat dengan jujur menyatakan bahwa saya
telah memulai penyelidikan ini tanpa berprasangka demi
kesimpulan yang kini kebenarannya saya usahakan untuk saya
buktikan kepada para pembaca. Sebaliknya, saya mulai dengan
pikiran yang tidak mendukung hal itu, karena tingginya rekaan
dan teori Tubingen yang nampak demikian sempurna pada suatu
saat telah meyakinkan saya. Saat itu saya tidak berminat untuk
meneliti masalah topografis itu secermat mungkin, namun
akhir-akhir ini saya sadari bahwa saya telah terbawa ke dalam
suatu hubungan dengan Kitab Kisah Para Rasul sebagai sumber
informasi yang berwewenang tentang topografi,benda-benda kuno
dan masyarakat Asia Kecil. Lama kelamaan saya memiliki
pendapat bahwa dalam pelbagai hal kecil, ceritera di dalamnya
menunjukkan kebenaran yang menakjubkan. Sesungguhnya, mulai
dengan gagasan yang pasti bahwa karya tulis itu pada dasarnya
adalah komposisi yang dibuat pada abad kedua, dan tidak pernah
bersandar pada bukti yang dimilikinya sebagai dasar yang
terpercaya karena keadaan-keadaan abad pertama, lambat laun
saya temukan bahwa kitab tersebut adalah sekutu yang berguna
dalam usaha-usaha penyelidikan yang gelap dan sulit. (Dikutip
dari buku karya Ramsay berjudul: St.
Paul the Traveler and the Roman Citizen [Santo Paulus
Pengelana dan Warga Negara Roma]).
Tentang kemampuan Lukas sebagai sejarawan,
Ramsay sesudah mengadakan penelitian selama 30 tahun
menyimpulkan bahwa Lukas adalah seorang sejarawan dari
jenjang pertama; pernyataan-pernyataannya tentang fakta tidak
hanya dapat dipercaya . . . pengarang
ini harus ditempatkan pada jajaran yang sama dengan
sejarawan-sejarawan terbesar.
Ramsay menambahkan: Sejarah Lukas tidak tertandingi dalam
hubungan dengan kejujuran sejarah itu.
Apa yang telah dilakukan oleh Ramsay dengan meyakinkan dan
final adalah membuang kemungkinan-kemungkinan tertentu.
Sebagaimana terlihat berdasarkan bukti arkeologis, Perjanjian
Baru mencerminkan keadaan pada paruh kedua abad pertama Masehi,
dan tidak mencerminkan keadaan abad-abad sesudahnya. Secara
historis hal ini sangat penting dan seharusnya telah
dikokohkan secara efektif. Dalam segala hal yang berhubungan
dengan fakta eksternal, penulis Kisah Para Rasul itu dipandang
sebagai orang yang sangat teliti dan tepat, suatu hal yang
dapat dilakukan hanya oleh orang yang hidup sezaman dengan
hal-hal yang ditulisnya itu.
Pada suatu saat disetujui bahwa Lukas sungguh-sungguh
ketinggalan kereta dalam hubungan dengan hal-hal yang
dilukiskannya sebagai peristiwa-peristiwa yang terjadi di
sekitar kelahiran Yesus (Lukas 2:1-3). Para pengritik
memberikan alasan bahwa tidak ada kegiatan cacah jiwa, bahwa
Quirinus bukanlah gubernur Suriah pada saat itu dan bahwa tiap
orang tidak diwajibkan kembali ke tempat asal leluhurnya.
Pertama-tama, temuan-temuan arkeologis menunjukkan bahwa
orang-orang Romawi mempunyai kebiasaan mengadakan pendaftaran
ulang secara teratur para wajib pajak dan juga mengadakan
cacah jiwa 14 tahun sekali. Prosedur ini sungguh-sungguh
dimulai di bawah Agustus dan yang pertama kali dilaksanakan
jika bukan tahun 23-22 S.M. tahun 9-8 S.M. Tahun yang kedua
itu tentulah tahun yang dimaksudkan oleh Lukas.
Kedua, kita mendapatkan bukti bahwa Quirinus adalah gubernur
di Suriah pada sekitar tahun 7 S.M. Anggapan ini didasarkan
pada prasasti yang ditemukan di Antiokhia yang menyebutkan
bahwa Quirinus memegang jabatan ini. Sebagai akibat temuan
ini, sekarang dianggap bahwa ia menjadi gubernur dua kali
pertama pada tahun 7 S.M. dan kesempatan yang lain adalah pada
tahun 6 M. (tahun ini disebutkan oleh Josephus).
Terakhir, dalam hubungan dengan kebiasaan melakukan
pendaftaran, papirus yang ditemukan di Mesir memuat
petunjuk-petunjuk pelaksanaan suatu cacah jiwa.
Tulisan pada papirus itu berbunyi sebagai berikut:
Berhubung dengan cacah jiwa yang sudah dekat, maka
orang-orang yang karena alasan apa saja terpaksa tinggal jauh
dari tempat asal mereka perlu segera mempersiapkan diri untuk
pulang ke kawasan pemerintah asal mereka agar mereka dapat
melengkapi pendaftaran keluarga mereka dan bahwa tanah yang
digarap dapat memberikan hasilnya kepada pemiliknya.
Pada awalnya para arkeolog percaya bahwa pengertian Lukas
salah bahwa Listra dan Derbe ada di Likaonia dan Ikonium tidak
(Kisah Para Rasul 14:6). Mereka mendasarkan keyakinan mereka
pada tulisan-tulisan orang-orang Roma seperti Cicero yang
menunjukkan bahwa Ikonium ada di kawasan Likaonia. Jadi, para
arkeolog mengatakan Kitab Kisah Para Rasul tidak dapat
dipercaya. Tetapi, pada tahun 1910, Sir William Ramsay
menemukan suatu monumen yang menunjukkan bahwa Ikonium adalah
kota di kawasan Frigia. Temuan-temuan sesudah itu memberikan
dukungan atas hal ini.
Di antara referensi historis lain yang ditulis Lukas adalah
tentang Lisanias raja wilayah Abilene (Lukas 3:1) pada awal
pelayanan Yohanes Pembaptis pada tahun 27 M.Satu-satunya
Lisanias yang dikenal para ahli sejarah adalah orang yang
dibunuh pada tahun 36 S.M. Tetapi, prasasti yang ditemukan di
dekat Damaskus berbicara tentang Orang yang dibebaskan
Lisanias Sang Raja pada tahun antara 14 dan 29 M.
Dalam Surat Kiriman kepada Orang-orang Romawi yang ditulis di
Korintus ini, Paulus menyebutkan istilah bendaharawan kota,
Erastus (Roma 16:23). Pada saat dilakukan penggalian di kota
Korintus pada tahun 1929, ditemukan suatu peninggalan kaki
lima dengan tulisan: ERASTVS PRO:AED:S:P:STRAVIT (Erastus,
pemelihara gedung-gedung umum, membuat kaki lima ini atas
biaya sendiri). Menurut Bruce, sangat mungkin kaki lima itu
ada pada abad pertama M. dan donatur serta orang yang disebut
Paulus mungkin adalah satu orang yang sama.
Juga suatu prasasti yang tidak lengkap yang dipercaya
mengandung kata-kata Sunagoge Orang Ibrani ditemukan di
Korintus. Dapat dibayangkan bahwa prasasti itu berdiri di atas
pintu masuk sunagoge yang diperdebatkan Paulus dalam Kisah
Para Rasul 18:4-7. Prasasti Korintus lainnya menyebutkan
pasar daging kota yang dimaksudkan Paulus dalam I
Korintus 10:25.
Jadi, berkat temuan-temuan arkeologis yang demikian banyak,
sebagian besar kota kuno yang disebutkan dalam Kitab Kisah
Para Rasul telah dapat diidentifikasi. Perjalanan Paulus
sekarang dapat secara tepat ditelusuri sebagai akibat dari
temuan-temuan ini.
Lukas menulis tentang keributan di Efesus dan menuturkan
tentang persidangan masyarakat (Ecclesia)
yang diselenggarakan di gedung teater (Kisah Para Rasul 19:23
dst.). Fakta-faktanya adalah bahwa persidangan itu
sungguh-sungguh dilaksanakan di sana menurut apa yang tertera
dalam prasasti yang berbicara tentang patung-patung perak
Artemis (Diana dalam King James Version) yang harus
ditempatkan di dalam gedung teater selama persidangan penuh
Ecclesia. Gedung teater itu, ketika digali, terbukti
memiliki ruangan yang dapat menampung 25,000 orang.
Lukas juga menyampaikan bahwa ada keributan yang terjadi di
Yerusalem karena Paulus membawa seorang kafir (yang dimaksud:
bukan Yahudi) memasuki Bait Allah (Kisah Para Rasul 21:28).
Telah ditemukan prasasti-prasasti, dalam bahasa Yunani dan
Latin, yang berbunyi, Tidak ada seorang asingpun yang boleh
masuk melewati batas yang mengelilingi Bait Allah dan tanah
sekelilingnya yang sudah dipagari. Barangsiapa tertangkap
basah ketika melakukan pelanggaran terhadap hal itu akan
bertanggung jawab secara pribadi atas hukuman mati yang akan
dialaminya. Terbukti lagi bahwa Lukas benar!
Pemakaian kata-kata tertentu oleh Lukas juga diragukan. Lukas
menyebutkan bahwa Filipi adalah bagian atau
distrik Makedonia. Dia menggunakan kata Yunani meris
yang diterjemahkan bagian atau distrik. F. J. A.
Hort percaya Lukas salah dalam hubungan dengan pemakaian kata
ini. Dia berkata bahwa meris
menunjuk kepada pengertian suatu porsi (bagian untuk
tujuan khusus) bukan suatu distrik, jadi, inilah yang
dijadikan dasar perbedaan pendapatnya itu. Tetapi,
penggalian-penggalian arkeologis telah menunjukkan bahwa
istilah meris ini
dipakai untuk menggambarkan bagian-bagian distrik tersebut.
Dengan demikian, lagi-lagi arkeologi telah menunjukkan
ketepatan Lukas.
Pemakaian kata-kata lain yang dinilai tidak bagus biasanya
dikaitkan dengan Lukas. Secara teknis ia dinyatakan salah
ketika menggunakan kata praetor
dengan pengertian penguasa-penguasa Filipi. Menurut para
sarjana itu, suatu kota diperintah oleh dua orang duumuir.
Tetapi, sebagaimana biasanya, Lukas terbukti tetap benar.
Temuan-temuan telah menunjukkan bahwa gelar praetor
dikenakan pada hakim-hakim di suatu jajahan Romawi.
Pemilihan kata proconsul
(gubernur dalam Alkitab TB) sebagai gelar Gallio (Kisah Para
Rasul 18:12) adalah pemakaian yang benar sebagaimana
dibuktikan oleh prasasti Delphi yang bagiannya berbunyi:
Ketika Lucius Junius Gallio, sahabatku, dan Proconsul
Akhaya . . .
Prasasti Delphi (52 M.) memberikan kepada kita kurun waktu
yang pasti untuk menetapkan pelayanan Paulus selama satu
setengah tahun di Korintus. Kita mengetahui hal ini melalui
fakta, dari sumber-sumber lain, bahwa Gallio menjabat tugas
tersebut dari tanggal 1 Juli dan bahwa jabatan proconsul itu
hanya bertahan selama satu tahun dan bahwa masa satu tahun itu
bersamaan dengan masa kerja Paulus di Korintus.
Lukas memberikan kepada Publius, orang besar di Malta, gelar
gubernur pulau itu (first
man of the island, [?]; the leading man of the
island NASB; the chief man of the island KJV;
the chief official of the island NIV) (Kisah Para
Rasul 28:7). Pelbagai prasasti yang telah digali
sungguh-sungguh memberikan gelar orang pertama (first
man) itu kepadanya.
Masih ada satu masalah lagi yakni pemakaian kata politarch (pembesar-pembesar kota Alkitab TB) oleh Lukas untuk
menyebut penguasa sipil di Tesalonika (Kisah Para Rasul 17:6).
Karena politarch
tidak ditemukan dalam sastera klasik, maka lagi-lagi Lukas
dianggap salah. Tetapi, sebanyak 19 prasasti yang menggunakan
gelar tersebut telah ditemukan. Yang cukup menarik ialah bahwa
lima di antaranya berhubungan dengan Tesalonika.
Pada tahun 1945, dua buah ossuary
(tempat penyimpanan tulang orang mati) ditemukan di sekitar
Yerusalem. Kedua ossuary ini menunjukkan adanya graffiti
(tulisan kuno pada dinding, sisi jalan, dsb.) yang menurut
penemunya, bernama Eleazar L. Sukenik, dinyatakan sebagai
dokumen-dokumen tertua tentang Kekristenan.
Tempat-tempat penyimpanan tulang orang mati ini ditemukan di
sebuah kuburan yang
dipakai sebelum tahun 50 M. Graffiti itu berbunyi lesous
iou dan lesous aloth.
Ada juga di situ empat buah salib. Nampaknya yang pertama
adalah doa yang ditujukan kepada Yesus untuk mendapat
pertolongan dan yang kedua, doa untuk kebangkitan orang yang
tulang-tulangnya tersimpan dalam ossuary itu.
Sungguh tidak mengherankan
bahwa E. M. Blaiklock, dosen di Universitas Auckland yang
mengajarkan Masalah-masalah Klasik, menyimpulkan bahwa
Lukas adalah ahli sejarah yang memiliki ketrampilan
sempurna, berdasarkan haknya sendiri patut disejajarkan dengan
penulis-penulis agung Yunani.
-
Kaki
lima. Selama
berabad-abad tidak ada dokumen tentang gedung pengadilan
tempat Yesus disidang oleh Pilatus (diberi nama Gabbatha atau
Litostrotos [Kaki Lima], Yohanes 19:13).
William
F. Albright
dalam bukunya berjudul The
Archeology of Palestine (Arkheologi Palestina) menunjukkan
bahwa tempat untuk mengadili itu adalah bagian dari Menara
Antonia yang berfungsi sebagai markas besar tentera Romawi di
Yerusalem. Tempat itu dibiarkan tertimbun tanah ketika kota
Yerusalem dibangun kembali pada masa Hadrian dan tidak
ditemukan sampai akhir-akhir ini.
-
Kolam
Bethesda, adalah
tempat lain yang tidak memiliki dokumen selain yang ada dalam
Perjanjian Baru, kini dapat diidentifikasi dengan kepastian
yang sangat meyakinkan di wilayah perempat timur laut kota tua
(wilayah yang diberi nama Bezetha, atau Padang Rumput Baru)
abad pertama Masehi, tempat bekas kolam itu ditemukan ketika
diadakan penggalian yang dilakukan di dekat Gereja St. Anne
pada tahun 1888.
|