PERBANDINGAN
PB
DENGAN KARYA KUNO LAIN
Perbandingan
Naskah
|
F. F. Bruce dalam
bukunya The New Testament Documents melukiskan dengan jelas perbandingan
antara Perjanjian Baru dengan tulisan-tulisan historis kuno:
Mungkin kita dapat menghargai betapa kaya Perjanjian Baru dalam
hubungan dengan usaha pembuktian naskah jika kita bandingkan
dengan materi tekstual karya-karya historis kuno lainnya. Untuk
Peperangan Gallic karya Caesar (yang dikarang antara tahun 58
sampai dengan 50 S.M.) ditemukan beberapa naskah, tetapi hanya
sembilan atau sepuluh saja yang baik, dan yang tertua berasal dari
zaman sekitar 900 tahun sesudah zaman Kaisar. Dari 142 kitab
sejarah Romawi karya Livy (59 S.M.-17 M.), hanya 35 naskah yang
bertahan; dan kitab-kitab ini kita kenal hanya bersumber pada
tidak lebih dari 20 naskah penting, hanya satu di antaranya, dan
itu berisi bagian-bagian dari Kitab III-VI,yang
berasal dari abad keempat. Dari 14 kitab Sejarah karangan
Tacitus (100 M.) hanya empat setengah naskah yang bertahan; dari
16 kitab Annals yang ditulisnya, 10 yang bertahan secara utuh dan
dua hanya sebagian. Teks dari bagian-bagian dua karya historis
besar yang ditemukan bergantung sepenuhnya hanya pada dua buah
naskah, satu dari abad kesembilan dan yang lain dari abad
kesebelas.
Naskah yang masih ada tentang karya-karyanya yang lebih
kecil (Dialogus de Oratoribus, Agricola, Germania) semuanya
bersumber pada kodeks abad kesepuluh. Sejarah karangan Thucydides
(460-400 S.M.) kita kenal berdasarkan delapan naskah, yang tertua
dari tahun 900 M., dan beberapa serpihan papirus, yang berasal
kira-kira dari awal zaman Kristen. Keadaan yang sama juga kita
temukan pada Sejarah karangan Herodotus (488-428 S.M.). Namun
tidak ada sarjana klasik bersedia mendengarkan alasan bahwa
keaslian Herodotus atau Thucydides diragukan karena naskah tertua
karya-karya mereka yang dapat kita manfaatkan sekarang berasal
dari waktu yang berjarak lebih dari 1300 tahun sesudah penulisan
naskah-naskah aslinya.
Greenlee
menulis dalam bukunya yang berjudul Introduction
to New Testament Textual Criticism (Pengantar kepada
Penelitian Tekstual Perjanjian Baru) tentang tenggang waktu antara
naskah asli (autograf) dan naskah yang ditemukan (lembar tertua
yang masih bertahan), mengatakan bahwa naskah-naskah tertua,
yang pada umumnya dari pengarang klasik Yunani dan dikenal saat
ini, berasal dari zaman seribu tahun atau lebih sesudah kematian
pengarangnya. Tenggang waktu bagi pengarang-pengarang Latin agak
berkurang, turun secara bervariasi sampai paling kurang tiga abad
dalam hubungan dengan Virgil. Tetapi, dalam hubungan dengan
Perjanjian Baru, dua di antara naskah terpenting ditulis dalam
kurun waktu 300 tahun sesudah Perjanjian Baru tertulis lengkap,
dan beberapa kitab Perjanjian Baru yang pada hakikatnya ditemukan
dalam keadaan utuh,demikian juga naskah-naskah dari banyak bagian
Perjanjian Baru yang demikian luas berasal dari satu masa abad
sesudah penulisan naskah aslinya.
Greenlee menambahkan bahwa karena para sarjana menerima
secara umum tulisan-tulisan klasik kuno sebagai karya yang dapat
dipercaya walaupun naskah-naskah tertua mereka itu ditulis jauh
sesudah penulisan karya aslinya dan jumlah naskah yang bertahan
dalam banyak hal sangat sedikit, maka jelaslah bahwa sejalan
dengan itu naskah-naskah Perjanjian Baru dipastikan dapat
dipercaya.
Bruce Metzger
dalam bukunya berjudul The
Text of the New Testament(Teks Perjanjian Baru) dengan
meyakinkan menulis tentang perbandingan tersebut: Karya
beberapa pengarang kuno terpelihara untuk dapat sampai kepada kita
melalui benang penyaluran yang sangat tipis kemungkinannya. Misalnya,
sejarah singkat tentang Roma oleh Velleius Paterculus bertahan sampai pada zaman moderen hanya melalui sebuah naskah yang
tidak lengkap, yang dipakai untuk menghasilkan editio princeps (edisi pertama) dan naskah tunggal ini hilang
pada abad ketujuhbelas sesudah disalin oleh Beatus Rhenanus di
Amerbach. Bahkan Annals
yang dikarang oleh sejarawan terkenal Tacitus bertahan, sejauh ini
dalam hubungan dengan enam kitab pertama, hanya dalam sebuah
naskah, yang diperkirakan berasal dari abad kesembilan. Pada tahun
1870 satu-satunya naskah Epistle
to Diognetus (Surat Kiriman kepada Diognetus), komposisi
Kristen awal yang biasanya dimasukkan oleh para penyunting ke
dalam himpunan karangan Bapa-bapa Rasuli, termakan api di
perpustakaan walikota Strasbourg. Dalam perbedaan mencolok angka-angka ini, peneliti tekstual Perjanjian
Baru (yang bermaksud menghancurkan kebenaran kitab ini, red.) dipermalukan
oleh kekayaan materinya sendiri.
F. F. Bruce
mengatakan: Tidak ada bahan literatur kuno di dunia ini yang
memiliki Bahan pendukung tekstual yang baik sebanyak bahan pendukung Perjanjian Baru
itu.
| PENGARANG |
Ditulis Tahun |
Naskah Tertua |
Tenggang Waktu |
Jumlah |
| Caesar |
100-44 S.M. |
900 M. |
1,000 tahun |
10 |
| Livy |
59 S.M.-17 M |
|
|
20 |
| Plato (Tetralogies) |
427-347 S.M. |
900 M. |
1,200 tahun |
7 |
| Tacitus (Annals) |
100 M. |
1100 M. |
1,000 tahun |
20 (-) |
| juga karya kecilnya |
100 M. |
1000 M. |
900 tahun |
1 |
| Pliny Muda (History) |
61-113 M. |
850 M. |
750 tahun |
7 |
| Thucydides (History) |
460-400 S.M. |
900 M. |
1,300 tahun |
8 |
| Suetonius (De Vita
Caesarum) |
75-160
M. |
950
M. |
800
tahun |
8 |
| Herodotus (History) |
480-425 S.M. |
900 M. |
1,300 tahun |
8 |
| Horace |
|
|
900 tahun |
|
| Sophocles |
496-406 S.M. |
1000 M. |
1,400 tahun |
193 |
| Lucretius |
Mati tahun 55 atau 53 S.M. |
|
1,100 tahun |
2 |
| Catullus |
54 S.M. 1550 M. |
|
1,600 tahun |
3 |
| Euripides |
480-406 S.M. |
1100 M. |
1,500 tahun |
9 |
| Demosthenes |
383-322 S.M. |
1100 M. |
1,300 tahun |
200* |
| Aristoteles |
384-322 S.M. |
1100 M. |
1,400 tahun |
49** |
| Aristophanes |
450-385 S.M. |
900 M. |
1,200 tahun |
10 |
*Semua dari satu lembaran.
**
Dari salah satu karya |
|
|
Perbandingan
Tekstual
|
|
Bruce Metzger mengamati: Dari semua komposisi
sastera karya pujangga-pujangga Yunani, sajak karya Homer adalah
yang paling sesuai sebagai bahan pembanding Alkitab. Ia
menambahkan: Dalam keseluruhan sastera kuno Yunani dan Latin, Iliad
mempunyai derajat nilai langsung di bawah Perjanjian Baru dalam
hal tersedianya jumlah terbesar bukti dalam bentuk naskah.
Metzger melanjutkan: Pada zaman kuno manusia
[1] menghafal karya Homer sebagaimana mereka kemudian wajib
menghafal Kitab Suci. [2] Masing-masing dihargai demikian tinggi
dan mereka kutip dalam mempertahankan alasan-alasan mereka yang
berhubungan dengan sorga, dunia dan Hades (alam barzah).[3] Karya
Homer dan Alkitab merupakan sarana utama yang dipakai mengajar
angkatan demi angkatan pelajar di sekolah untuk membaca. [4] Di
sekitar karya Homer dan Alkitab telah dihasilkan demikian banyak
catatan dan tafsiran. [5] Karya Homer dan Alkitab dilengkapi
dengan daftar kata-kata penting. [6] Kedua-duanya jatuh ke tangan
penafsir yang memandang karya-karya tersebut sebagai kiasan. [7]
Kedua-duanya ditiru dan ditambah satu dengan Nyanyian-nyanyian
Homer dan karya-karya tulis seperti Batrachomyomachia, yang lain
dengan kitab-kitab Apokrifa. [8] Karya Homer tersedia dalam bentuk
analisis prosa; Injil Yohanes diubah ke dalam bentuk kisah
kepahlawanan sepanjang enam kaki oleh Nonnus dari Panopolis. [9]
Naskah-naskah Homer dan Alkitab diberi ilustrasi. [10] Pemandangan
Homer terlihat pada lukisan-lukisan dinding di Pompei;
gereja-gereja Kristen basilika (sampai dengan abad pertengahan,
red.) dihiasi dengan mozaik dan fresko (lukisan dinding dengan
menggunakan bahan-bahan warna yang dicampur air atau campuran
kapur, red.) adegan-adegan Alkitab.
D.
G. Turner menyatakan bahwa tanpa diragukan Homer adalah pujangga
kuno yang karya-
karyanya dibaca oleh kalangan yang paling luas.
| KARYA |
TAHUN
PENULISAN |
NASKAH
TERTUA |
TENGGANG
WAKTU |
JUMLAH
NASKAH |
| Homer (Iliad) |
900 S.M. |
400 S.M. |
500 tahun |
643 |
| Perjanjian
Baru |
40-100
M. |
125
M. |
25
tahun |
24.000
lebih |
Geisler
dan Nix
membuat perbandingan variasi tekstual antara dokumen-dokumen
Perjanjian Baru dan karya-karya kuno lainnya: Menyusul sesudah
Perjanjian Baru, ditemukan naskah-naskah Iliad dalam jumlah lebih banyak (643) jika dibandingkan buku kuno
apapun lainnya. Kedua-duanya, Iliad dan Alkitab, mengalami
perubahan-perubahan tekstual dan kritik dalam hubungan dengan
naskah-naskah mereka dalam bahasa Yunani. Perjanjian Baru memiliki
sekitar 20,000 kalimat.
Mereka
melanjutkan komentar mereka dengan mengatakan bahwa Iliad
memiliki sekitar 15,600 kalimat. Hanya 40 kalimat (atau 400 kata)
dalam Perjanjian Baru yang diragukan sementara ada 764 kalimat Iliad yang diragukan. Ini berarti bahwa kerusakan teks sebanyak lima
persen ini sebanding dengan setengah dari satu persen perbaikan
serupa yang dibuat atas Perjanjian Baru.
Sajak kepahlawanan nasional India,
Mahabharata, bahkan mengalami perubahan-perubahan yang lebih parah
lagi. Sekitar delapan kali gabungan kerusakan yang ada pada Iliad
dan Odyssey, secara
kasar 250,000 kalimat. Dari jumlah ini, sekitar 26,000 kalimat
dinyatakan sebagai kerusakan tekstual (10 persen).
Benjamin Warfield
dalam bukunya berjudul Introduction
to Textual Criticism of the New Testament (Pengantar kepada
Kritik Tekstual Perjanjian Baru) mengutip pendapat Ezra Abbot
tentang sembilanbelas per duapuluh bagian dari variasi tekstual
Perjanjian Baru, dengan berkata bahwa bagian-bagian itu: . . .
memiliki sedikit sekali pendukung . . . walaupun ada demikian
banyak variasi bacaan; dan sembilan belas per duapuluh dari
sisanya demikian tidak penting sehingga penerimaan atau
penolakannya tidak akan membawa perubahan yang berarti atas
pengertian teks di mana bagian yang diterima atau ditolak itu
menjadi bagiannya.
|
|