BUKAN SEKEDAR TUKANG KAYU
Josh McDowell

Apakah Catatan-catatan
Alkitab dapat Dipercaya?

Perjanjian Baru merupakan sumber sejarah utama bagi informasi mengenai Isa. Karena itu, banyak kritikus dalam abab ke 19 dan ke 20 sudah menyerang reliabilitas dokumen-dokumen Alkitab. Tampaknya ada tuduhan terus-menerus yang tak mempunyai dasar sejarah ataupun yang kini telah ketinggalan jaman dengan adanya hasil-hasil penemuaan dan penelitian arkeologis terbaru.

Ketika saya memberi ceramah
-ceramah di universitas Arizona State, seorang profesor yang membawa mahasiswa-mahasiswa jurusan sastranya bersamanya, mendekati saya setelah suatu kuliah “bebas” di ruangan terbuka. Katanya, “Tuan McDowell, anda mendasarkan pernyataan-pernyataan anda mengenai Almasih dengan menggunakan dokumen abad ke 2 yang kini sudah kuno. Saya membuktikan di kelas saya hari ini bagaimana Perjanjian Baru ditulis pada waktu yang sebegitu lama setelah Almasih hidup sehingga catatan-catatan itu tak mungkin tepat.” 

Saya menjawab, “Pandangan
-pandangan atau kesimpulan-kesimpulan anda mengenai perjanjian Baru sudah dua puluh lima tahun ketinggalan jaman.” Pandangan-pandangan profesor tersebut mengenai catatan-catatan tentang Isa di dasarkan pada kesimpulan-kesimpulan dari seorang kritikus Jerman, F.C. Baur. Baur menyimpulkan bahwa kebanyakan kitab-kitab perjanjian Baru baru ditulis pada akhir abad ke 2 Masehi. Ia menyimpulkan bahwa tulisan-tulisan tersebut pada dasarnya berasal dari mitos-mitos atau legenda-legenda yang telah berkembang dalam kurun waktu yang lama, antara masa hidup Isa sampai laporan-laporan tersebut ditulis.

Namun pada abad ke 20, penemuan
-penemuan arkeologis telah memastikan ketepatan naskah-naskah perjanjian Baru. Penemuan-penemuan naskah-naskah papirus tua (manuscipt-manuscript John Ryland, tahun 130 M., Papirus Cester Beatty, 155 M., dan Papirus Bodmer II, 200 M.) Menjembatani jurang antara masa Isa dan naskah-naskah  yang berasal dari masa sesudahnya. 

Millar Burrows dari universitas Yale mengatakan, “ Hasil lain dari perbandingan bahasa Yunani yang dipakai pada naskah Perjanjian Baru dengan bahasa yang dipakai pada papirus
( yaitu, penemuan-penemuan itu) merupakan peningkatan keyakinan akan ketepatan penyampaian teks Perjanjian Baru itu sendiri. Penemuan-penemuan seperti itu telah meningkatkan keyakinan para sarjana bahwa Alkitab dapat dipercayai. 

William Albright, yang dulu arkeolog Alkitab paling terkemuka di dunia, menulis, “Kita dapat mengatakan dengan sungguh
-sungguh bahwa tak ada lagi alasan kuat untuk memperkirakan tanggal kitab manapun dari Perjanjian Baru itu setelah tahun 80 M., dua generasi penuh sebelum tanggal yang diberikan oleh para kritikus Perjanjian Baru yang lebih radikal di masa kini, yaitu 130 dan 150.” Ia mengungkapkan pandangan ini dalam suatu wawancara dalam majalah Christianity Today, “Saya berpendapat, setiap kitab dari Perjanjian Baru ditulis oleh seorang Yahudi yang telah (menjadi Kristen dan) dibaptiskan antara tahun 40 sampai 80 dari abad I Masehi (kemungkinan sekali antara tahun 50-75)

Sir William Ramsay dipandang sebagai salah satu dari arkeolog
-arkeolog terbesar yang pernah hidup. Ia seorang pengikut aliran sejarah Jerman yang mengajarkan bahwa Kisah Para Rasul merupakan produk dari pertengahan abad ke 2 Masehi, dan bukan abad pertama sperti yang dikemukakan oleh buku itu sendiri. Setelah membaca kritik modern mengenai Kisah Para Rasul, ia menjadi yakin bahwa kitab itu tidak memuat catatan yang akurat yang dapat dipercayai mengenai fakta-fakta waktu itu (tahun 50 M) dan karena itu tidak patut dipertimbangkan oleh seorang ahli sejarah. Karena itu dalam penelitiannya mengenai sejarah Asia kecil, Ramsay memberikan sedikit saja perhatian terhadap Perjanjian Baru. Namun penelitiannya memaksa dia untuk mempertimbangkan tulisan-tulisan Lukas. Ia mengamati keakuratan secara terinci dari catatan-catatan historis penulis Lukas dan pelan-pelan sikapnya terhadap Kisah Para Rasul mulai berubah. Ia terpaksa menyimpulkan bahwa, “Lukas adalah ahli sejarah kelas 1. Penulis ini seharusnya ditempatkan bersama-sama dengan para ahli sejarah terbesar." Karena keakuratan Lukas sampai hal-hal yang paling terinci itulah, Ramsay akhirnya mengakui bahwa Kisah Para Rasul tak mungkin merupakan dokumen abad kedua, melainkan adalah laporan pertengahan abad pertama.      

Banyak sarjana liberal kini terpaksa mempertimbangkan tanggal
-tanggal yang lebih awal untuk Perjanjian Baru. Kesimpulan-kesimpulan Dr. John A.T. Robisnson dalam bukunya yang baru Redating the New Testament ternyata amatlah radikal. Penilitiannya membawa dia kepada keyakinan bahwa seluruh Perjanjian Baru ditulis sebelum runtuhnya Yerusalem pada tahun 70 M.      

Dimasa sekarang ini Kritik Bentuk mengatakan bahwa bahan
-bahan itu disampaikan dari mulut ke mulut sampai kemudian ditulis dalam bentuk kitab-kitab Injil. Meskipun periodenya jauh lebih pendek dari pada yang sebelumnya dipercayai, mereka menyimpulkan bahwa kisa-kisah dalam keempat kitab Injil mengambil bentuk sastra rakyat (legenda-legenda-legenda, cerita-cerita, mitos-mitos, dan  perumpamaan-
perumpamaan)    

Salah satu dari kritik
-kritik utama terhadap gagasan Kritik Bentuk mengenai perkembangan tradisi lisan ialah bahwa periode tradisi lisan itu (seperti yang didefinisikan oleh para kritikus) tidak cukup panjang untuk memungkinkan terjadinya perubahan-perubahan dalam tradisi seperti yang telah dilontarkan oleh para kritikus tersebut. Berbicara nengenai singkatnya unsur waktu yang terlibat dalam penyusunan Perjanjian Baru, Simon Kistemaker, profesor Alkitab pada Dort College, menulis, “Biasanya, Pengumpulan kisah-kisah rakyat diantara masyarakat berbudaya primitif berlangsung dalam banyak generasi. Ini merupakan pross bertahap yang berlangsung selama berabad-abad. Tetapi sesuai denga pemikiran kritik bentuk, kita harus menyimpulkan bahwa kisah-kisah Injil dihasilkan dan dikumpulkan dalam waktu sedikit lebih dari satu generasi. Berdasarkan pemikiran dari pendekatan kritik bentuk, penyusunan masing-masing kitab Injil harus dipahami sebagai suatu proyek yang terjadi sebagai akibat percepatan yang dipaksakan.   -kritik Bentuk tidak menangani tradisi dari kata-kata Isa secermat yang seharusnya mereka lakukan. Suatu pemeriksaan yang teliti terhadap 1 Korintus 7 :10, 12, 25 memperlihatkan pelestarian yang dilakukan secara hati-hati serta adanya suatu tradisi tulen dalam mencatat kata-kata ini. Dalam agama Yahudi terdapat kebiasaan antarasiswanya untuk menghafalkan ajaran seorang rabi. Seorang murid yang baik tiu bagaikan “sebuah waduk air yang dinding-dindingnya dibuat dari plester sehingga tak mungkin kehilangan satu tetes air pun yang termuat didalamnya” (Mishna, Aboth, ii, 8). Kalau kita mengandalkan teori C. F. Burney (dalam The Poetry of Our Lord, 1925), kita dapat menyimpulkan bahwa ,  banyak ajaran Tuhan mengambil bentuk puisi Aram, sehingga mudah dihafal.

Paul L. Meier, profesor dalam bidang sejarah purba pada Universitas Michigan Barat, menulis, “Argumen bahwa agama Kristen melahirkan mitos Paskahnya pada suatu periode waktu yang panjang, atau bahwa sumber
-sumbernya ditulis banyak tahun setelah peristiwa tersebut sama sekali tidak berdasarkan fakta. Sambil menganalisa Kritik Bentuk, Albright menulis, “Hanya para sarjana modern yang meiliki metode dan perspektif sejarah dapat menjalin jaringan spekulasi begitu rupa seperti yang dugunakan oleh kritik-kritik bentuk untuk menyelubungi tradisi Injil.” Kesimpulan Albright sendiri ialah bahwa “suatu periode antara 20 sampai 50 tahun itu terlalu sempit untuk memungkinkan terjadinya perubahan berarti terhadap isinya yang mendasar dan bahkan terhadap perkataan-perkataan spesifik dari ungkapan-ungkapan Isa.

Seringkali ketika saya sedang berbicara dengan orang lain mengenai Alkitab, mereka menjawab dengan cemoohan bahwa kita tidak bisa mempercayai apa yang dikatakan Alkitab karena Alkitab ditulis 2.000 tahun yang lalu. Katanya Alkitab itu penuh dengan kesalahan dan kesenjangan.
Saya menjawab bahwa saya yakin saya dapat mempercayai Alkitab. Lalu saya menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi pada suatu kuliah di kelas sejarah. Saya membuat pernyataan bahwa saya yakin akan lebih banyak bukti untuk mempercayai Perjanjian Baru dari pada hampir 10 sastra klasik manapun yang dikumpulkan bersama.


Profesor dari kelas itu duduk di sudut sambil terkekeh seolah
-olah berkata, “Oh, jangan membadut.” Saya berkata, “Mengapa anda terkekeh?” Ia berkata, “Atas keberanian anda untuk membuat pernyataan di dalam kelas sejarah bahwa Perjanjian Baru itu bisa dipercaya. Itu konyol.”

Saya menghargai orang yang membuat pernyataan demikian karena saya pun selalu ingin melontarkan pertanyaan yang berikut.
(Saya tak pernah mendapatkan jawaban yang positif). Saya berkata, “Tolong anda katakan, sebagai seorang ahli sejarah, pengujian-pengujian apa yang anda terapkan pada karya sejarah yang manapun untuk menetukan apakah karya itu akurat atau patut dipercaya?” Hal yang mengejutkan ialah bahwa ternyata dia tak punya pengujian apa pun.

Saya meneruskan, “Saya mempunyai pengujian
-pengujian tertentu.”Saya yakin bahwa reliabilitas historis Alkitab seharusnya diuji oleh ukuran yang sama seperti yang digunakan kepada semua dokumen sejarah. Ahli sejarah C. Sanders mendaftarkan serta menjelaskan tiga prinsip dasar dari pengujian-pengujian terhadap penulisan sejarah (historiografi), yaitu pengujian bibliografi, pengujian bukti internal (dalam) dan pengujian bukti eksternal (luar).

PENGUJIAN BIBLIOGRAFI

Pengujian bibliografi adalah pengujian tentang penyampain teks yang menyebabkan dokumen
-dokumen tersebut sampai di tangan kita. Dengan kata lain, tampa adanya dokumen-dokumen asli, seberapa jauhkah kita bisa mempercayai salinan-salinan yang kita miliki sehubungan dengan jumlah manuskrip serta waktu yang berlangsung antara salinan yang asli dengan salinan yang ada?      

Kita dapat menghargai kekayaan luar biasa akan kewibawaan manuskrip dari Perjanjian Baru dibandingkan dengan bahan
-bahan teks dari sumber-sumber kuno yang penting lainnya.      

Sejarah mengenai Thucydides
(460-400 seb.M.) kita peroleh hanya dari delapan manuskrip yang berasal dari sekitar tahun 900 M., hampir 1.300 tahun setelah ia menulis naskah itu. Manuskrip dari sejarah Heroditus pun berasal dari masa belakangan serta sdikit jumlahnya. Namun demikian, seperti yang disimpulkan F.F. Bruce, “Tak ada sarjana klasik yang akan mendengarkan argumen yang menyatakan bahwa keaslian Herodotus ataupun Thucydides itu diragukan karena manuskrip-manuskrip yang tertua dari karya-karya mereka yang kita miliki masa kini berasal dari 1.300 tahun sejak karya-karya asli mereka.      

Aristoteles menulis puisi
-puisinya sekitar tahun 343 seb.M. Namun demikian salinan tertua yang kita miliki berasal dari tahun 1.100 M. Terdapat 1.400 tahun jarak di antaranya, dan hanya lima manuskrip yang tinggal.     

Caesar menulis sejarahnya mengenai perang-perang Galia diantara tahun 58 dan 59 seb.M., dan kewibawaan manuskrip didasarkan pada sembilan atau 10 salinan yang ditulis 1.000 tahun setelah kematiannya.      

Mengenai kewibawaan naskah dari Perjanjian Baru, jumlah bahannya ternyata amat luar biasa dibandingkan yang lainnya. Setelah penemuan
-penemuan naskah papirus tua yang menjembatani jurang antara waktu Almasih hidup di dunia dan abad kedua, muncul bertumpuk-tumpuk manuskrip lainnya. Kini terdapat lebih dari 20.000 salinan naskah Perjanjian Baru. Iliad memiliki 643 manuskrip dan merupakan naskah berwenang kedua setelah Perjanjian Baru       

Sir Frederic Kenyon, bekas direktur dan ahli perpustakaan utama pada Museum Inggris dan yang tak tersaingi kewenangannya dalam mengeluarkan pernyataan mengenai manuskrip, menyimpulkan, “Dengan demikian jarak waktu antara tanggal penulis asli dengan bukti
-bukti tertua yang ada  menjadi begitu kecil sehingga malah bisa diabaikan, dan dasar terakhir bagi keraguan manapun bahwa Alkitab telah sampai ke tangan kita tidak seperti yang tertulis sekarang, kini kita singkirkan. Baik keaslian maupun integritas keseluruhan dari kitab-kitab Perjanjian Baru akhirnya dapat dianggap terbukti.      

Ahli bahasa Yunani Perjanjian Baru J. Harold Greenlee menambahkan,”Karena para sarjana pada umumnya menyatakan bahwa tulisan
-tulisan klasik kuno itu dapat dipercaya, kendatipun manuskrip-manuskrip tertuanya ditulis begitu lama semenjak tulisan-tulisan yang asli dan jumlah manuskrip-manuskrip yang ada dalam banyak hal begitu sedikit, maka jelas pulalah bahwa teks Perjanjian Baru pun dapat dijamin bisa dipercayai."

PENGUJIAN  BUKTI INTERNAL

Pengujian bibliografi telah membuktikan bahwa hanya teks yang kita miliki itulah yang asli ditulis. Kita masih harus membuktikan apakah catatan tertulis tersebut patut dipercaya dan seberapa jauh kita bisa mempercayainya. Itu masalah kritik internal, yang merupakan pengujian kedua mengenai historisitas seperti yang didaftar oleh C. Sanders.
      

Pada titik ini seorang kritikus sastra masih mengikuti perkataan Aristoteles, “Keuntungan dari keraguan harus diberikan kepada dokumen itu sendiri, dan tak boleh diambil oleh si kritikus itu sendiri.” Dengan kata lain, seperti yang diringkaskan oleh John W. Montgomery, “Kita harus mendengarkan pernyataan
-pernyataan dari dokumen yang dianalisa itu, dan tidak menganggap bahwa ada apa-apa yang palsu atau keliru kecuali penulis itu sendiri membatalkan tulisannya dengan memuat kontradiksi-kontradiksi ataupun kekeliruan-kekeliruan tentang fakta-fakta yang sudah diketahui oleh orang lain."      

Dr. Louis Gottschalk, bekas profesor sejarah pada Universitas Chicago, menguraikan metode sejarahnya dalam suatu buku pedoman yang dipergunakan oleh banyak orang untuk melakukan penelitian sejarah. Gottschalk menunjukan bahwa kemampuan penulis ataupun saksi untuk menyatakan kebenaran akan menolong ahli sejarah dalam menentukan apakah tulisan itu bisa dipercaya atau tidak, “bahkan kalaupun bahan itu termuat dalam suatu dokumen yang diperoleh dengan paksa ataupun penipuan, atau didasarkan pada bukti
-bukti kabar angin, ataupun diberikan oleh seorang saksi yang berminat."      

“Kemampuan untuk menyampaikan kebenaran” ini erat hubungannya dengan kedekatan saksi baik secara geografis maupun kronologis kepada peristiwa
-peristiwa yang dicatat. Kisah-kisah Perjanjian Baru mengenai kehidupan dan pengajaran Isa dicatat oleh orang-orang yang merupakan para saksi matanya sendiri ataupun mereka yang menceritakan laporan-laporan yang telah mereka dengar dari para saksi mata peristiwa-peristiwa tersebut ataupun ajaran-ajaran dari Almasih.      

Lukas 1
:1-3  ----  “Teofilus yang mulia, banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu.”

2 Petrus 1
:16  ----  “Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Isa Almasih sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaranNya.”     

1 Yohanes 1
:3  ----  “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan AnakNya, Isa Almasih.”      

Yohanes 19
:35  ----  “Dan orang yang melihat hal itu sendiri yang memberikan kesaksian ini dan kesaksiannya benar, dan ia tahu, bahwa ia mengatakan kebenaran, supaya kamu juga percaya.”     

Lukas 3
:1  ----  “Dalam tahun kelimabelas dari pemerintahan Kaisar Tiberius, ketika Pontius Pilatus menjadi wali negeri Yudea, dan Herodes raja wilayah Galilea, Filipus saudaranya, raja wilayah Iturea dan Trakhonitis, dan Lisanias raja wilayah Abilene…  .”      

Kedekatan dari kisah
-kisah yang dicatat ini merupakan sarana yang amat efektif dalam memastikan ketepatan dari apa yang diingat oleh seorang saksi. Namun seorang ahli sejarah juga harus menghadapi saksi mata yang secara sadar ataupun tidak sadar mengisahkan kisah-kisah palsu kendatipun ia dulu dekat dengan peristiwa itu dan mampu menyampaikan kebenarannya.      

Bila kisah
-kisah Perjanjian Baru mengenai Almasih beredar sesudah keangkatanNya ke sorga, masih ada orang-orang yang hidup yang sedang hidup sebelumnya pada Almasih berada di dunia. Orang-orang ini tentunya dapat memastikan ataupun membantah ketepatan kisa-kisah itu. Dalam membela pemberitaan injil mereka, para rasul (bahkan ketika mereka diperhadapkan dengan lawan-lawannya yang paling keras sekalipun) telah mengimbau kepada pengetahuan yang umum mengenai Isa. Mereka tidak saja mengatakan, “Kami melihat ini” atau “Kami telah mendengar bahwa…  ,”melainkan mereka juga berkata, tepat di hadapan para pengritik mereka yang keras, “Kalian sudah tahu pula mengenai hal-hal ini…. Kalian sudah melihatnya. Kalian sendiri sudah mengetahuinya.” Seseorang harus berhati-hati bila dia berkata kepada lawanya, “Engkaupun mengetahui hal ini,” karena bila dia keliru mengenai rinciannya, maka semua yang dikatakannya akan ditolak mentah-mentah.

Kisah Para Rasul 2:22  ----  “Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Isa dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu…  .”      

Kisah Para Rasul 26:24-28  ----  “Sementara Paulus mengemukakan semuanya itu untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya, berkatalah Festus dengan suara keras: ‘Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila.’ Tetapi Paulus menjawab: ‘Aku tidak gila, Festus yang mulia! Aku mengatakan kebenaran dengan pikiran yang sehat! Raja juga tahu tentang segala perkara ini, sebab itu aku berani berbicara terus terang kepadanya. Aku yakin, bahwa tidak ada sesuatupun dari semuanya ini yang belum didengarnya, karena perkara tidak terjadi di tempat yang terpencil.’’’       

Mengenai nilai sumber pertama dari catatan
-catatan Perjanjian Baru, F.F. Bruce, Profesor Rylands mengenai kritik dan Eksegese Alkitab di Universitas Manchester, berkata, “Dan bukan hanya para saksi mata yang bersifat ramah tamah yang harus diperhitungkan para pengkhotbah purba. Ada pula yang lainnya yang kurang simpatik. Yang juga tahu benar tentang fakta-fakta utama mengenai pelayanan dan kematian Isa. Para murid tak mendapat mengambil resiko dengan menyampaikan berita yang tidak tepat (apalagi memanipulasi fakta-fakta itu secara sengaja), yang akan segera ditelanjangi oleh orang-orang  yang dengan gembira akan melakukannya. Sebaliknya, sa;lah satu dari hal-hal yang kuat dalam pemberitaan Injil yang dilakukan oleh para rasul itu adalah himbauan mereka yang penuh keyakinan terhadap pengetahuan para pendengarnya. Mereka tidak saja berkata, ‘Kami adalah saksi dari perstiwa-peristiwa ini,’ tetapi juga, ‘seperti yang kamu tahu’ (Kis 2:22). Seandainyaada kecenderungan untuk menyelewengdari fakta-fakta dalam segi bahan yang manapun yang dikemukakan, kemungkinan akan kehadiran saksi-saksi yang menaruh kebencian terhadapnya diantara para pendengarnaya akan berlaku sebagai alat untuk mengoreksi bahannya lebih lanjut.”

   
 Lawrence J. McGinley, dosen dari Saint Peter’s College, memberikan komentarnya mengenai nilai para saksi  yang menaruh kebencian sehubungan dengan peristiwa-peristiwa yang tercatat itu, “Pertama-tama, para saksi mata terhadap peristiwa-peristiwa yang dibicarakan itu masih hidup ketika tradisi itu telah sepenuhnya terbentuk. Diantara para saksi mata itu terdapat musuh-musuh besar terhadap gerakan keagamaan yang baru itu. Namun demikian tradisi itu mengatakan bahwa berita yang sedang disampaikan adalah serangkaian perbuatan yang terkenal luas dan doktri-doktrin yang diajarkan."

Kembali ke Atas
Pengantar ] Bab 1 ] Bab 2 ] Bab 3 ] [ Bab 4 ] Bab 10 ]