Bagaimana Mengalami Kasih dan Pengampunan Allah

Persoalan Paling Besar

Bagaimana Dipenuhi Roh Kudus
Sedang dipersiapkan
Sedang dipersiapkan
7 Langkah Pokok Doa dan Puasa yang Berhasil
Sedang dipersiapkan

 

Pengalaman Paling Besar
Tantangan Paling Besar Masa Kini
Persoalan Paling Besar
Jawaban Terhadap Persoalan
Miliki Jawaban Secara Pribadi
Pertanyaan untuk Didiskusikan

APAKAH PERSOALAN YANG BESAR DALAM HIDUP MANUSIA ? 

Pada masa kini, lebih dari setengah penduduk Amerika Serikat yang berjumlah lebih dari 200 juta orang mengaku dirinya orang Kristen. Hasil penyelidikan dengan interview terhadap segala lapisan masyarakat baru-baru ini menyatakan bahwa 97% dari mereka percaya kepada Allah. Tetapi sikap dan tindakan mereka menunjukkan bahwa Bangsa Amerika telah menjadi bangsa materialistis yang mengalami kemerosotan moral dan rohani. Banyak orang Kristen telah menjadi bagian dari persoalan masyarakat kita; bukannya menjadi orang yang memecahkan persoalan tersebut. Orang-orang yang bukan Kristen hanya melihat perbedaan kecil atau bahkan tidak sama sekali ada perbedaan didalam nilai-nilai hidup mereka dengan nilai-nilai hidup orang-orang yang disebut Kristen.

Seorang teman yang beragama Kristen, yang merupakan orang penting dalam gerejanya, pada suatu hari mengatakan : “Saya biasanya mengajak tetangga-tetangga saya untuk ke gereja besama-sama. Ia selalu menolak, tetapi saya bujuk terus. Pada suatu hari ia berkata kepada saya, Herb, jangan mengganggu saya lagi dengan ajakanmu ke gereja. Sudah jelas hal itu belum membuat kamu lebih baik. Saya tidak dapat melihat sesuatu dalam hidupmu yang berbeda dengan hidup saya. Pada dasarnya kita menjalani kehidupan yang sama. Terus terang saya tidak suka agama kamu dan saya tidak mau mendengar hal itu lagi.” Banyak pemuda yang telah meninggalkan gereja karena mereka merasa, bahwa orang tua mereka berpura-pura, mengatakan hal-hal yang baik dengan bibir mereka, tetapi tidak mempraktekkannya didalam kehidupannya.

Jalan yang Salah

Setelah saya mendapat kehormatan untuk berbicara kepada ratusan orang Kristen di berbagai daerah di seluruh dunia, saya menemukan, bahwa kebanyakan orang Kristen yang berada di dalam kekalahan, kegagalan serta tidak dapat mengeluarkan buah, merasa tidak tahu apa yang harus diperbuatnya. Orang semacam ini tidak perlu diejek atau dicela dan dipersalahkan. Ia harus dikasihi dan ditolong.

Beberapa waktu yang lalu, ketika saya sedang mengendarai mobil di Mexico di sebuah kota yang asing bagi saya, saya telah membelok ke jalan yang salah. Saya telah berjalan dengan arah yang salah pada jalan satu jurusan. Tetapi saya telah menyadari hal ini segera setelah saya belok tadi. Saya berjalan terus, bukan karena saya tidak menyadari kesalahan saya, tetapi bagaimana saya dapat memutar kembali. Segera setelah saya berhasil membalik atas bantuan seorang polisi yang ramah-tamah dan saya meneruskan perjalanan dengan senang hati, berjalan pada arah yang benar.

Begitu juga dengan hidup seorang Kristen. Seorang Kristen tidak perlu diberitahu bahwa ia adalah seorang yang pura-pura, atau bahwa hidupnya tidak menghormati Tuhan, jikalau ia hidup dalam kekalahan. Ia perlu ditunjukkan bagaimana caranya kembali. Ia perlu mengerti asal mula kesulitannya dan bagaimana cara memecahkannya. Inilah sebenarnya yang diperbuat Firman Allah bagi kita. 

Ada Tiga Macam Orang

Di dalam I Korintus pasal 2 dan 3. Dengan ilham Roh Kudus, Rasul Paulus dengan tepat mendiagnosa persoalan itu. Ia mengatakan, bahwa ada 3 macam orang di dunia ini – orang duniawi, orang Kristen yang rohani dan orang Kristen yang hidup dalam tabiat duniawi.

Jika Saudara adalah seorang Kristen yang hidup dalam kekalahan, kegagalan, tidak dapat mengeluarkan buah dan tidak mempunyai tenaga, saya mempunyai kabar baik bagi Saudara. Selidikilah dengan teliti apa yang dikatakan Paulus di sini. Saudara dan setiap orang yang hidup di dunia ini dapat disamakan dengan salah satu dari ketiga kategori itu. 

Orang duniawi

Orang duniawi bukan seorang Kristen. Ia bergantung pada akalnya sendiri dan hidup dengan kekuatannya sendiri. Ia tidak dapat mengerti atau menerima kebenaran Firman Allah. Perhatian dan ambisinya dipusatkan pada perkara-perkara jasmani dan duniawi. Secara rohani, ia mati di depan Allah – mati didalam pelanggaran dosa-dosanya.

 

 

Orang Kristen yang Rohani

Orang Kristen yang rohani ialah seorang Kristen yang dikontrol dan diberi kuasa Roh Kudus Allah. Ia diikat oleh kasih dan kuasa Allah yang tak terbatas dan hidup di dalam kekuatan dari Kristus yang hidup.


Ia mengerti dan percaya pada Firman Allah, dan perhatian serta ambisinya ditujukan dan dipusatkan pada kehendak Allah yang sempurna. Secara rohani ia hidup. Ia bersukacita di dalam Tuhan dan mengeluarkan buah bagi Juruselamat, karena ia memperbolehkan Roh Kudus dengan leluasa mengatur hidupnya.

 Orang Kristen yang Hidup dalam Tabiat Duniawi

Orang Kristen yang hidup dalam tabiat duniawi yang dimaksudkan oleh Paulus di dalam I Korintus 3, adalah orang Kristen yang hidup didalam kekalahan dan tidak dapat menghasilkan buah. Ia tidak hidup terikat oleh kekayaan Roh Kudus yang tak ada habisnya itu, tetapi justru hidup didalam kekuatan hidupnya. Mungkin saja ia seorang guru sekolah Minggu, seorang pedagang, seorang mahasiswa atau bahkan seorang pendeta atau penginjil, yang walaupun ia adalah seorang Kristen, ia hidup menurut kehendaknya sendiri – ingin menguasai dirinya sendiri tetapi juga berharap untuk menyukakan Kristus. Ia ingin dan kadang-kadang berusaha mengasihi perkara-perkara dari Allah, tetapi ia masih tetap berpegang pada perkara-perkara duniawi. Ia mungkin juga menganggap dirinya tahu apa yang diinginkan Allah dari padanya dan dengan jujur mencoba untuk hidup menurut standar itu dengan kekuatan dirinya sendiri, tetapi ia gagal terus-menerus karena hatinya memberontak, ia kurang penerangan atau kurang iman. Ia tidak pernah mengijinkan Roh Kudus membentuk dia menjadi pribadi yang diinginkan Tuhan. Dengan demikian, di dalam kegagalan yang terus-menerus ia hidup di luar kehendak Allah yang sempurna.

“Orang lain”

Kebanyakan orang Kristen, sadar atau tidak, termasuk dalam kategori orang Kristen yang hidup dalam tabiat yang duniawi ini. Seseorang berkata kepada saya : “Sebelumnya saya tidak tahu, bahwa saya seorang Kristen yang hidup dalam tabiat duniawi. Saya telah mendengar pendeta saya bicara tentang orang Kristen yang bertabiat duniawi, tetapi saya selalu berpikir yang ia maksudkan itu orang lain, yang saya harap sedang mendengarkan khotbah pendeta itu juga. Sekarang setelah saya mendengarkan khotbah Saudara, saya menyadari bahwa saya juga seorang yang bertabiat duniawi.”

Pada suatu hari, seorang pedagang datang kep[ada saya; ia sangat susah karena gerejanya terpecah. “Setengah dari anggota gerejakami keluar dan akan membentuk gereja lain,” katanya. Hal ini menyedihkan saya. Saya tak dapat memikirkan sesuatu yang lebih tragis daripada tubuh Kristus yang dipecah-pecah.

Sementara kami bercakap-cakap, orang itu menunjukkan tanda-tanda bahwa ia adalah seorang Kristen yang bertabiat duniawi. Saya mulai menerangkan kepadanya, bahwa Allah telah membuat perlengkapan bagi dia untuk menjadi seorang Kristen. Ia tidak usah terus-menerus hidup sebagai seorang yang bertabiat duniawi. Akhirnya kami bertelut bersama-sama dan berdoa. Ia meminta pengampunan akan dosa-dosanya dan memohon agar Tuhan mengisi dan mengatur hidupnya dengan Roh Kudus. Pada waktu kami sedang menikmati apa yang telah dilakukan Tuhan, ia berkata : “Tahukah Saudara, tidak akan ada lagi persoalan dalam gereja saya sekarang. Saudara tahu, sayalah orangnya yang telah menyebabkan segala kesulitan itu.” 

Saya Melakukan Apa yang Saya Benci

Paulus bercerita kepada kita lebih lanjut tentang orang yang bertabiat duniawi itu pada waktu ia menulis : “Sebab kita tahu, bahwa Hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa. Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Jadi jika aku perbuat apa yang aku tidak kehendaki, aku menyetujui bahwa hukum Taurat itu baik.”

“Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yairtu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat,”16 Apakah ayat dari Kitab Suci ini menyatakan hubungan Saudara dengan Allah pada saat ini?

Seorang dosen yang masih muda dan berbakat, seorang yang sukses dalam hidupnya dan juga mempunyai masa depan yang cerah, datang meminta bimbingan. Ia berkata : “Saya telah menjadi orang Kristen beberapa tahun yang lalu pada waktu saya masih kanak-kanak. Tetapi lama-kelamaan saya mulai mengatur hidup saya sendiri. Saya masih tetap aktif di gereja – gereja yang paling besar di kota itu. Tetapi saya malu untuk mengatakan bahwa saya lebih tertarik untuk bekerja bagi kesibukan saya sendiri dan meningkatkan kedudukan sosial saya daripada melayani Tuhan dan mengenal Dia lebih baik. Saya telah membela pekerjaan dan jabatan saya dan tidak selamanya jujur dan baik dalam hubungan saya dengan orang lain.”

“Allah telah menunjukkan kepada saya bahwa saya adalah seorang Kristen yang bertabiat duniawi dan memperingatkan saya tentang tahun-tahun yang telah saya sia-siakan bagi kepentingan pribadi saya sendiri. Saya telah datang untuk mengakui dosa-dosa saya pada Allah dan mempersembahkan hidup saya seluruhnya kepada Kristus untuk selanjutnya. Tolong doakan agar saya boleh menjadi anak Allah – orang Kristen yang rohani – dan bukan orang Kristen yang bertabiat duniawi seperti yang telah saya perbuat pada tahun-tahun yang lalu. Sekarang saya dengan sukarela ingin masuk the Great Commission Army (Laskar Amanat Agung) dan membantu penginjilan dunia bagi Kristus.” 

 Hidup Menurut Buku

Seorang teman lain, orang yang paling berbakti yang pernah saya kenal, hidup menurut sebuah buku hitam kecil. Buku ini menceritakan tentang suatu kehidupan dengan disiplin yang sangat berlebih-lebihan. Di dalam buku ini, ia menyimpan dengan hati-hati semua catatan tentang keaktifannya – pada waktu yang lalu, sekarang dan pada masa yang akan datang. Di dalam buku itu ia mencatat waktu bangun paginya setiap hari, berapa lama ia mengadakan renungan, berapa banyak ayat Alkitab yang harus ia hafalkan hari itu dan kepada beberapa orang ia harus bersaksi. Saya sangat kagum padanya. Saya ingin sekali seperti dia.

Tetapi pada suatu hari, ia mengalami suatu pukulan mental. Setelah ia keluar dari rumah sakit, ia berkata kepada saya : “Saya tidak bisa hidup sebagai orang Kristen. Saya telah mencoba untuk menjadi anak Allah dengan memaksakan diri saya pada disiplin-disiplin yang kaku. Sebelum mereka membawa saya ke rumah sakit, tindakan saya yang terakhir secara sadar ialah membuang buku hitam kecil itu, yang telah menjadi berhala saya, ke sudut. Saya tidak mau lagi melihatnya.” Teman saya tersebut sedang mencoba hidup bagi Tuhan dengan kekuatan jasmaninya. 

 Suatu Sikap yang Berubah

Seorang pendeta dari sebuah gereja yang besar datang ke salah satu lembaga penginjilan kami yang di Arrowhead Springs. Setelah  saya mengakhiri khotbah saya tentang “Bagaimana Mengalami Kasih Dan PengampunanNya”, ia datang kepada saya untuk bercakap-cakap. Ia penuh dengan kebencian dan dendam terhadap pemimpin-pemimpin gereja di mana ia dahulu menjadi pendeta.          

“Mereka sangat menyakiti hati saya,” katanya. “Mereka mencoba menghancurkan saya. Saya mencoba membalas dendam dan akibatnya saya sekarang menyadari bahwa saya telah menjadi orang Kristen yang jahat, pencela orang lain, dan orangKristen yang bertabiat duniawi. Saya harus benar di hadapan Allah atau berhenti bekerja sebagai pendeta. Setiap kali saya berkhotbah tentang Injil, kata-kata itu kembali menyalahkan saya. Berdoalah untuk saya agar Allah mau melepaskan saya dari kebencian ini, dari penyakit tabiat duniawi yang berbahaya yang menghancurkan hidup dan pelayanan saya.”

Air mata penyesalan diikuti dengan air mata sukacita pada waktu kami bertelut bersama-sama untuk meminta kasih dan pengampunan dari Allah. Orang yang bangkit berdiri itu jauh berbeda dengan orang yang bertelut dengan saya beberapa menit yang lalu. Beberapa hari kemudian ia pergi mengunjungi pemimpin-pemimpin gereja yang ia benci itu. Ia mengatakan kepada mereka, bahwa ia mengasihi mereka dan ia meminta agar mereka memaafkan dia. Pemimpin-pemimpin itu menjawab dia dengan kasih dan memaafkannya dan mereka saling berpelukan dengan sukacita dan kasih Kristen. Pendeta itu kembali ke gerejanya dengan hati yang penuh kasih, yang dibakar oleh semangat bagi Tuhan kita. Pelayanannya diubah dengan tiba-tiba.

Peperangan di Dalam Hati

Paulus melanjutkan keterangannya tentang orang Kristen yang bertabiat duniawi : “Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini : jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jhat itu ada padaku.

Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal-budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?”17 Mendengar bacaan ini, salah seorang teman saya berkata : “Itulah riwayat hidup saya – cerita tentang kehidupan saya.”

Pernahkah Saudara menanyakan pertanyaan ini dengan kata-kata Saudara sendiri, “Siapakah yang mau membebaskan saya dari dalam tubuh maut ini?” Perhatikanlah berita yang indah dalam jawaban Rasul Paulus : “Syukur kepada Allah! Oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”18

  yellowbox.gif (81 bytes)  Feedback

          

[ Bagaimana Mengalami Kasih dan Pengampunan Allah || Next Page ]

© 1999-2000 Campus Crusade for Christ International | webmaster@greatcom.org

Last Updated: 11 July, 2006